daun gugur

Jumat, 09 November 2012

Menulis Bianglala

hahaha.., entah kenapa aku merasa begitu senang saat menulis. Hal ini tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Bahwa aku akan menyukai menulis dan beranggapan memiliki masa depan yang baik dari kerja keras ini.

Awalnnya aku masuk Sastra Indonesia, ini adalah sebuah kehampaan. Aku masuk bukan karena dorongan hasrat dan keinginan. Masuk karena aku memang sudah masuk. Tak ada pilihan dan harus kujalani. 

Di sastra orang yang pertama kali aku kenal adalah yang tak kusangka2 akan menjadi teman sekelasku. Dia adalah Ajeng Aristiana. Anak Bandung. Dia bahkan ketemu dengan ayahku.Ajeng, begitulah sapaannya. Dia gadis yang baik, pandai bicara, berani, dan punya motivasi. Mungkin hanya secuil itu yang bisa kusampaikan.

Orang kedua yang akhirnya dekat denganku adalah Dedi Winarno. Dia bocah semarang. Anak BBOY katanya. Dia ramah, baik, dan mudah bergaul. Dulu aku dekat dengannya yang akhirnya juga tertarik dengan BBOY. Tapi sayang, meski sudah latihan aku tetap tak mampu seperti dia. Mungkin bukan tempatku untuk BBOY. Atau memang aku yang tak serius.

Orang ketiga adalah Ipul, Ya Syaiful Romadhon. Kita bisa dekat karena kita menjadi anak HAWE. HAYAMWURUK. Ini adalah UKM pertamaku di kampus. Aku senang di dalam ada banyak orang yang menyenangkan. Tapi seiring waktu aku menjadi pengelola, aku merasa terbebani.

Orang-orang berikutnya adalah Iznan, aku bertemu dengannya di PERWIL. Disana ia juga mengenalkanku dengan anak sekelas, namanya Arum. Pertama kali mengenal mereka tak membuatku berkesan sedikit pun. 

Selanjtnya orang yang beruntun kenal dan akhirnya menjadi teman dekat adalah Risti Kamila. kita ngobrol di dalam kelas dan setelah itu kami menjadi begitu dekat. Riste berteman dengan Arum dan Erinda Ayu Hutami. Dengan mengenalnya aku pun dikenalkan dengan teman-temannya. 

Di atas aku sudah menyebutkan sebuah perkenalan yang tak mengesankan antara aku Isnan dan Arum. Tapi setelah aku selesai kuliah waktu semester awal itu. Aku keluar dan disambut oleh Risti Arum dan Erin. Tiba-tiba saja Arum bergelayut di pundakku. Itu membuatku kaget. Bagaimana tidak. Kita tidaklah dekat, bahkan saat perkenalan pertama aku merasa biasa-biasa saja. Namun semenjak itulah Aku Riste dan Arum menjadi teman dekat. Ada yang menyebut itu The Dreanbow. Aku manut wae.

Adu adu malah cerita melenceng jauh dari tema Menulis!
Pokoknya saat ini menulis adalah kebaikan untukku. Aku senang dan aku memerjuangkannya. Mungkin itu dulu,

Kucukupkan Sudah

Semua itu telah menjadi semu. Kelabu telah membingkis setiap perjalanan yang lalau. Gereget hati sudah tak bisa diikuti lagi. Biarkan itu berlalu. Aku akan berjalan dalam ruang baru. Semoga itu mendapat restu. Lebih baik dan lebih mampu mengerti satu-sama lain.

 

Pandangan-pandangan itu tak menyudahi urusanku. Membuatku terjerembab entah kemana. Saling bertatapan kosong. Aku tak mengerti apa yang harus kukatakan. Yang semua telah kau lihat adalah diriku. Mungkin benar aku terlalu egois dan tak perduli. Karena aku memang seperti ini. 


Kau bilang aku telah berubah. Aku memang sengaja berubah. Itu untukmu. Kau terlalu baik untukku. Ada banyak orang yang lebih pantas untukmu. Aku berdiri di sini bukan mengharap pengertian. aku ingin menjadi seorang yang berani. Satu ungkapan saja mungkin sudah cukup. 


Cinta pertama itu masih terasa. Entah bagaimana aku tak sanggup menghilangkannya. Namun itu lambat laun mengendap dalam dasar neraka. Lamat-lamat menjadi sepi dan engkau menghilang. Aku relakan itu. Karena memang aku tak dapat berlanjut jauh dengannmu. Lebih baik begini. Teman dan teman. Akan lebih baik begini. Aku tak akan lagi menutup mata saat melihat ular. Itu untukmu. Dan aku akan bahagia untukmu. 




Semut-semut merayap di dedaunan rapuh

Katak-katak melompat di atas bebatuan basah

Aku tak ingin memata merah

Biar darah menjadi pelapis kerah

Yng kulihat yang kuraba yang kurasa perlahan leleh

Aku berdiam dengan sejuta batu yang menjadi besi merah