Semua itu telah menjadi semu. Kelabu telah membingkis setiap perjalanan yang lalau. Gereget hati sudah tak bisa diikuti lagi. Biarkan itu berlalu. Aku akan berjalan dalam ruang baru. Semoga itu mendapat restu. Lebih baik dan lebih mampu mengerti satu-sama lain.
Pandangan-pandangan itu tak menyudahi urusanku. Membuatku terjerembab entah kemana. Saling bertatapan kosong. Aku tak mengerti apa yang harus kukatakan. Yang semua telah kau lihat adalah diriku. Mungkin benar aku terlalu egois dan tak perduli. Karena aku memang seperti ini.
Kau bilang aku telah berubah. Aku memang sengaja berubah. Itu untukmu. Kau terlalu baik untukku. Ada banyak orang yang lebih pantas untukmu. Aku berdiri di sini bukan mengharap pengertian. aku ingin menjadi seorang yang berani. Satu ungkapan saja mungkin sudah cukup.
Cinta pertama itu masih terasa. Entah bagaimana aku tak sanggup menghilangkannya. Namun itu lambat laun mengendap dalam dasar neraka. Lamat-lamat menjadi sepi dan engkau menghilang. Aku relakan itu. Karena memang aku tak dapat berlanjut jauh dengannmu. Lebih baik begini. Teman dan teman. Akan lebih baik begini. Aku tak akan lagi menutup mata saat melihat ular. Itu untukmu. Dan aku akan bahagia untukmu.
Semut-semut merayap di dedaunan rapuh
Katak-katak melompat di atas bebatuan basah
Aku tak ingin memata merah
Biar darah menjadi pelapis kerah
Yng kulihat yang kuraba yang kurasa perlahan leleh
Aku berdiam dengan sejuta batu yang menjadi besi merah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar