daun gugur

Sabtu, 30 Agustus 2014

Gadis beraroma

22 Agustus, sore hari
Bisa dibilang hari itu mendekati sore. Lu semua tahu kan bagimana ketertarikan seseorang terhadap lawan jenis. Ada beberapa aspek yg membuat kita tertarik; awalnya mungkin dimulai dari kenal, tapi kenal yang gimana? Di saat kenal itulah kita mulai melihat sisi2 tertentu bagian yang membuat kita tertarik.

Well, gua punya cara yg bisa dibilang sedikit mesum. dari dul;u gua selalalu tertarik dengan cewek yg punya aroma tubuh yg berbeda. Dan sore ini gua nemuin lagi yang kayak gitu. Cewek yag punya sisi menarik dari aroma tubuh. Kalok lu kayak gua, mungkin lu juga bakal ngerasa nyaman karena menghirup aroma itu.
Jian, mesum tenan.

Tapi gua akui cewek itu cantik.
Dia duduk di samping gua dan bertanya beberapa hal hingga aromanya tercium masuk ke dalam hidung dan gua mulai sakau. Kecanduan binti ingin memeluk dan menegenalnya!! Uahhh!
Padahal hanya sekali hirupan nafas.

Dia juga punya suara yg berbeda... terdengar nyaman ditelinga..
sayang aku tak memiliki kesempatan untuk mengnalnya.

Rabu, 09 Juli 2014

Kalau Tumbuh Ya Kemana-mana

Dahulukala, berlum terlalu lama-lama sekali. Sekitar lima belas tahun silam ketika usiaku menginjak lima tahunan, bulan puasa itu ada di akhir tahun. Jadi ketika masa kecilku yang berkepala botak dengan mata sejernih bola pingpong, aku mengira bahwa puasa adalah rutinitas sakral keagamaan penutup di akhir tahun. Hingga seterusnya ternyata bulan-bulan puasa itu semakin maju dan musim pun kian berubah, pemansan global dan iklim yang cukup menyengat, budaya yang mulai masuk semakin beragam serta perkembangan iptek dan ilmu pengetahuan yang semakin maju.
Bocah kecil itu kini sudah tak takut lagi dengan hantu yang katanya selalu muncul menjelang maghrib yang akan 'menggondhol' anak2 yang keluyuran. Well, skrng sore hingga malam pun aku masih sering main di luar.
Dahulu kala, seperti yang kubilang di atas, belum terlalu lama-lama sekali. Aku masih sering melihat sosok entitas berbahaya yang sebenarnya hanya menampakkan diri namun membuatku berlari kocar-kacir. Kini sekali pun aku tak pernan melihatnya. Penampakan paling mengerikan adalah Jin berwujud kerbau dengan mata bulat putih, senyuman lebar yang seluruhnya putih, serta tanduk berwana putih. Jin itu nongol ketika maghrib2 dan nongkrong tepat di bawah pohon kelapa yang seketika membuatku berlari kocar-kacir. Kata temanku yang sepertinya Indigo, jika kau melihat Jin atau hantu dengan wujud yang begitu jelas, mungkin kelak sampai dewasa kau akan sering melihat penampakan konyol yang tak nenguntungkan sama sekali itu, namun bila kau melihat penampakan dengan wujud yang tipis dan samar, berarti kemampuan itu akan menghilang ketika kau dewasa. Katanya karena kesucianmu sudah hilang. Well, Jin kerbau pun akan tertawa mendengarnya.
Dulu hingga sekarang aku masih senang mendengar kisah-kisah seram, sampai-sampai aku menjadi yang paling pandai di kelas sewaktu SD untuk bercerita omong kosong tentang hantu yang bahkan sama sekali tak pernah kulihat dan teman-temanku mendengarkannya hingga dahinya berkerut. Saat ini yang paling membuatku tertarik adalah Jin yang katanya super sekali.
Karena aku sangat senang mendengar cerita hantu, aku sering bertanya kepada ibu, ayah, maupun kakekku kalau-kalau mungkin mereka pernah melihat dedemit itu. Well, ternyata iya. Dahulu kala lagi, ketika ibuku masih remaja. Ibu pernah melihat sosok Jin bertubuh hitam besar dengan memakai blangkon yang berdiri dibawah 'soko', (kayu besar penyanggga yang sering ada di dalam rumah). Ibuku langsung tidur dan menutup selimut rapat-rapat, katanya. Kali ini cerita bergulir ke ayahku yang juga dahulu kala lagi. Ayah pernah diteriaki mahluk halus yang berkati "Bali!!! Wes sore!!" Ketika keluyuran di kuburan sendirian. Suara yang besar itu dipercaya merupakan Jin. Well, karena setan, pocong, kunti, dan tuyul sepertinya tak akan repot-repot menegur orang lain apalagi sesama setan. Kemudian, embahku yang sekarang jadi sedikit kurang sehat karena ternyata punya; banyak susuk, keris, emas, dan jarum yang terselip ditubuhnya. Ternyata juga memlihara Jin dan para setan yang katanya anak-anaknya yang sekarang kupanggil, bulik, tante, dan Om. Demit-demit semuanya takut sama Embah. Bahkan katanya Embah bisa teleportasi dengan bantuan tetekbengek dedemitnya. Lebih hebat dari teknologi mutakhir yang bahkan belum dimiliki negara manapun. Konyol bukan? Dan kemampuan konyol seperti itu sepertinyatak diwarisi oleh adikku yang badannya bahkan lebih besar dariku. ROAR!!
Pengalaman pertama melihat mahluk yang tidak punya sopan santun dan membuat org takut itu sebenarnya dimulai ketika usiaku tiga tahun, ketika itu aku masih punya rumah di semarang. Ada sosok tangan melambai-lambai tanpa kepala, kaki dan tubuh, kemudian ada sosok kepala tergantung di pepohonan rindang di depan rumah. Konyol sekali. Ketika aku kecil juga sangat sering melihat ular, bermacam-macam jenis ular, dari yang ukuran jari kelingking hingga yang berukuran paha laki-laki dewasa, Besar sekali hingga membuatku tak berani lewat jalan itu lagi.
Banyak perubahan kepribadian terjadi ketika kumis mulai tumbuh, bulu timbul dimana-mana, hingga tubuhmu semakin membesar. Pemikiran yang berkembang dan pubertas yang cepat membuat nafsu terkadang diluar kontrol. Puasa yang dulunya bolong-bolong kini menjadi semakin rapat dan yang dulunya tak boleh nyoblos maupun daftar ujian SIM, kini aku bisa melakukannya berulang kali. Bahwa hidup itu selalu mendapati perubahan dan pengalaman yang menarik. Bahwa hidup itu membuatmu memiliki banyak hal serta teman. Dari yang taat beribadah hingga yang ateis. Dari yang normal-normal hingga yang sering lihat hantu. Dari yang galak hingga yang romance. Dari bahasa Jawa hingga; Jerman, Belanda, Jepang, Thailan, dan Korea. Kemudian dimasa yang akan datang, aku masih penasaran apa lagi yang akan terjadi//

Sejak Saat Itu Hingga Sekarang



Aku terpikat
Lekat
Karat
Menguat
Utuh
Tak berkurang
Masih menginginkan
Jantung
Hidup
Dan matiku
Masih milikmu

Sajak Seorang Penulis



Jidatku cenat-cenut mempermainkan kata di depan sini. Halaman demi halaman telah berhasil terangkai dalam puing-puing kalimat norak yang menari-nari riang. Mataku telah sayup-sayup mengkomandoi diri. Melihat kasur pun aku mati suri. Berperang dalam riwayat ini. Seperti menghujam diri dengan senandung pedih menit kehidupan.
Tangan sudah semakin pegal. Apa lagi mata yang berulangkali membawa renunganku melayang. Saat ini aku sedang terkoneksi pada keinginan hati. Mendulang emas dalam kata-kata penuh arti. Adakah perisai hati sekuat baja. Memertahankan napsu menulis di riang yang kelam.
Aku disini penari jalang. meliuk-liukkan hati dan jari jemari. Membasahi jidat dengan peluh beraroma wangi. Mengharap bidadari pun kan membacanya dengan getaran dalam hati. Mungkinkah kau mengerti.
Demi mengisi amunisi hati yang sepertinya bersedih karena malu-malu kucing. Mencoba mempertanyakan baik dan buruk dari sebuah renungan singkat yang terlintas pada arus derasnya aliran kata yang berdomisili di angan.

embun



“Doa Kepada Surga”
Terbiak embun fajar
Aku bersandar dari selimut malam
Terkoak merpati pagi
Aku terbangun dari senyap mimpi
Beringsut kelabu surya
Aku meretas jerih gemericik suci
Begidik sabuk perindang polos
Aku bersujud dalam runyam
Duhai ESA pelindung masa
Aku berhadap mutiara kalbu
Remang hati di kerudung pilu
Jalan sepintas Doa,
Terlantun mulut cercap
Mengigau nyata menjadi bulir
Melambai kata demi jalan ESA
Terbaik untuk semua
Lebarkan jalan
Ampuni segala dosa
Karena benih tertanam dosa
Demi masa untuk hidup kedua
Jalanmu suci ilahi
Demi ridhomu aku melantun
Sebuah syair irama sendu
Yang tersayang yang memberiku hidup.

“Teguran Teman”
Aku mendarat di permukaan hati yang terjal
Membawaku semakin curiga
Merenungkan waktu menyibak kebenaran
Melalui sepintas rasa membuat semua jadi runyam
Kau hilang tanpa bata
Aku terseok kesedihan
Kau hampa bagiku menyakitkan
Mengertilah dia dirundung pilu melihat onar.

“Hilang”
Aku hambar
Pasu
Tanpa motif ingin lebih
Bilah hati memanggil jiwa untuk melakukan,
tapi dini aku perlahan layu.

“Senyap”
Melipat mata,
relung penyendirian
Karunia yg terpancar dari malam tanpa jasa
Aku tidur titihan mimpi
Membawaku hingga pagi.



“Tarian Hujan”
Hujan redam hati Q yg ragu
Hujan kembalikan kasihku yg menjauh
Hujan jauhkan dia dari petirmu
Hujan mengertilah
Aku merindukannya.

“Ego”
Buaian itu mengerikan
Orang berkata jangan dekati
Orang berkata itu tidak baik
Orang berkata jauh-jauh dari situ
Tapi aku berkata, TERSERAH apa mauku!

“Sunah”
Telah cukup hariku hari ini
Telah banyak syukur yang kau beri
Telah banyak nikmat yang kuterima
Kutuntaskan malam ini dengan berbuka dua bongkah roti dan tahu gimbal
Amin.

SELALU DI HATI




Sahabat terdekat bisa selalu ada dalam pikiranmu
Bahkan melebihi itu semua
Ketika sang surya mulai bernuansa merentangkan sayap pilar kemegahan
Saat itu alam semesta mendoakan
Sebuah jalan terang tanpa noda
Sebuah benih kemahsyuran
Kan kau terima sebagai salam pertemanan sepanjang masa

UNTUKMU TERBAIK




Ranting malam bantu sentuh indahnya
Pucuk daun lambaikan dirinya untukku
Semilir angin bisikkanlah syahdu rasa
Tak terkira semua untuk bintang
                Jadikan aku gembala mimpi
                Jadikan aku purnama pembilas luka
Wahai kau gadis
Dengarkanlah bisik kerinduan
Rasakanlah hangatnya cinta
Nikmati damainya rasa
                Indah hati yang kumiliki
                Adalah senyum terindahmu