daun gugur

Rabu, 09 Juli 2014

Sajak Seorang Penulis



Jidatku cenat-cenut mempermainkan kata di depan sini. Halaman demi halaman telah berhasil terangkai dalam puing-puing kalimat norak yang menari-nari riang. Mataku telah sayup-sayup mengkomandoi diri. Melihat kasur pun aku mati suri. Berperang dalam riwayat ini. Seperti menghujam diri dengan senandung pedih menit kehidupan.
Tangan sudah semakin pegal. Apa lagi mata yang berulangkali membawa renunganku melayang. Saat ini aku sedang terkoneksi pada keinginan hati. Mendulang emas dalam kata-kata penuh arti. Adakah perisai hati sekuat baja. Memertahankan napsu menulis di riang yang kelam.
Aku disini penari jalang. meliuk-liukkan hati dan jari jemari. Membasahi jidat dengan peluh beraroma wangi. Mengharap bidadari pun kan membacanya dengan getaran dalam hati. Mungkinkah kau mengerti.
Demi mengisi amunisi hati yang sepertinya bersedih karena malu-malu kucing. Mencoba mempertanyakan baik dan buruk dari sebuah renungan singkat yang terlintas pada arus derasnya aliran kata yang berdomisili di angan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar