Jidatku cenat-cenut mempermainkan
kata di depan sini. Halaman demi halaman telah berhasil terangkai dalam
puing-puing kalimat norak yang menari-nari riang. Mataku telah sayup-sayup
mengkomandoi diri. Melihat kasur pun aku mati suri. Berperang dalam riwayat
ini. Seperti menghujam diri dengan senandung pedih menit kehidupan.
Tangan sudah semakin pegal. Apa
lagi mata yang berulangkali membawa renunganku melayang. Saat ini aku sedang terkoneksi
pada keinginan hati. Mendulang emas dalam kata-kata penuh arti. Adakah perisai
hati sekuat baja. Memertahankan napsu menulis di riang yang kelam.
Aku disini penari jalang. meliuk-liukkan
hati dan jari jemari. Membasahi jidat dengan peluh beraroma wangi. Mengharap
bidadari pun kan membacanya dengan getaran dalam hati. Mungkinkah kau mengerti.
Demi mengisi amunisi hati yang
sepertinya bersedih karena malu-malu kucing. Mencoba mempertanyakan baik dan
buruk dari sebuah renungan singkat yang terlintas pada arus derasnya aliran
kata yang berdomisili di angan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar