“Doa Kepada Surga”
Terbiak embun fajar
Aku
bersandar dari selimut malam
Terkoak merpati pagi
Aku terbangun dari senyap mimpi
Beringsut
kelabu surya
Aku
meretas jerih gemericik suci
Begidik sabuk perindang polos
Aku bersujud dalam runyam
Duhai ESA pelindung masa
Aku berhadap mutiara kalbu
Remang hati di kerudung pilu
Jalan sepintas Doa,
Terlantun mulut cercap
Mengigau nyata menjadi bulir
Melambai kata demi jalan ESA
Terbaik untuk semua
Lebarkan jalan
Ampuni segala dosa
Karena benih tertanam dosa
Demi masa untuk hidup kedua
Jalanmu suci ilahi
Demi ridhomu aku melantun
Sebuah syair irama sendu
Yang tersayang yang memberiku hidup.
“Teguran
Teman”
Aku
mendarat di permukaan hati yang terjal
Membawaku
semakin curiga
Merenungkan
waktu menyibak kebenaran
Melalui
sepintas rasa membuat semua jadi runyam
Kau
hilang tanpa bata
Aku
terseok kesedihan
Kau
hampa bagiku menyakitkan
Mengertilah
dia dirundung pilu melihat onar.
“Hilang”
Aku
hambar
Pasu
Tanpa
motif ingin lebih
Bilah
hati memanggil jiwa untuk melakukan,
tapi
dini aku perlahan layu.
“Senyap”
Melipat
mata,
relung
penyendirian
Karunia
yg terpancar dari malam tanpa jasa
Aku
tidur titihan mimpi
Membawaku
hingga pagi.
“Tarian Hujan”
Hujan
redam hati Q yg ragu
Hujan
kembalikan kasihku yg menjauh
Hujan
jauhkan dia dari petirmu
Hujan
mengertilah
Aku
merindukannya.
“Ego”
Buaian
itu mengerikan
Orang
berkata jangan dekati
Orang
berkata itu tidak baik
Orang
berkata jauh-jauh dari situ
Tapi
aku berkata, TERSERAH apa mauku!
“Sunah”
Telah
cukup hariku hari ini
Telah
banyak syukur yang kau beri
Telah
banyak nikmat yang kuterima
Kutuntaskan
malam ini dengan berbuka dua bongkah roti dan tahu gimbal
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar