daun gugur

Rabu, 09 Juli 2014

embun



“Doa Kepada Surga”
Terbiak embun fajar
Aku bersandar dari selimut malam
Terkoak merpati pagi
Aku terbangun dari senyap mimpi
Beringsut kelabu surya
Aku meretas jerih gemericik suci
Begidik sabuk perindang polos
Aku bersujud dalam runyam
Duhai ESA pelindung masa
Aku berhadap mutiara kalbu
Remang hati di kerudung pilu
Jalan sepintas Doa,
Terlantun mulut cercap
Mengigau nyata menjadi bulir
Melambai kata demi jalan ESA
Terbaik untuk semua
Lebarkan jalan
Ampuni segala dosa
Karena benih tertanam dosa
Demi masa untuk hidup kedua
Jalanmu suci ilahi
Demi ridhomu aku melantun
Sebuah syair irama sendu
Yang tersayang yang memberiku hidup.

“Teguran Teman”
Aku mendarat di permukaan hati yang terjal
Membawaku semakin curiga
Merenungkan waktu menyibak kebenaran
Melalui sepintas rasa membuat semua jadi runyam
Kau hilang tanpa bata
Aku terseok kesedihan
Kau hampa bagiku menyakitkan
Mengertilah dia dirundung pilu melihat onar.

“Hilang”
Aku hambar
Pasu
Tanpa motif ingin lebih
Bilah hati memanggil jiwa untuk melakukan,
tapi dini aku perlahan layu.

“Senyap”
Melipat mata,
relung penyendirian
Karunia yg terpancar dari malam tanpa jasa
Aku tidur titihan mimpi
Membawaku hingga pagi.



“Tarian Hujan”
Hujan redam hati Q yg ragu
Hujan kembalikan kasihku yg menjauh
Hujan jauhkan dia dari petirmu
Hujan mengertilah
Aku merindukannya.

“Ego”
Buaian itu mengerikan
Orang berkata jangan dekati
Orang berkata itu tidak baik
Orang berkata jauh-jauh dari situ
Tapi aku berkata, TERSERAH apa mauku!

“Sunah”
Telah cukup hariku hari ini
Telah banyak syukur yang kau beri
Telah banyak nikmat yang kuterima
Kutuntaskan malam ini dengan berbuka dua bongkah roti dan tahu gimbal
Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar