daun gugur

Kamis, 04 Oktober 2012

Penguin Bianglala

Malam ini saat serpihan hujan mulai larut dalam gempuran tanah. Malam saat kekeringan mulai terhuyun simpuh dan mendayung ke utara. Malam ketika hanya sebatas langit terendah yang terlihat. Malam ketika suara rintih malam mulai menirukan irama hati. Aku mulai menyadari. Sebuah luka terkuak dalam raga ini. Perlahan namun pasti. Memberiku harapan baru bahwa aku sanggup untuk melangkah. Melangkah menuju senyuman hangat yang kau persembahkan dibawah terik untukku seorang.

Bukankah yang kita lalui selama ini seperti anak kecil. Tapi entah kenapa perjalanan ini memang terasa sulit. Cinta yang sama-sama kita pendam menjadi luka bagi kita berdua. 

Bercanda saja kita tak sanggup. Kau ingat waktu itu, waktu saat kita berdua belum teriris oleh perasaan berlebih ingin memiliki. Kita sanggup untuk tertawa bersama, bergurau dan bercanda ria tak perdulikan pikiran orang lain. Tapi berselang waktu dan kedekatan mulai menghambur semakin ke dalam. Kutak sanggup mengungkapkannya. Kutak mampu memberitahumu, bahwa aku menyayangimu, bahwa aku mencintaimu.

Seolah ada kekhawatiran tak mampu membuatmu tersenyum lagi. Seolah keputusanku untuk memilikimu malah berakhir buruk. Seolah semua pikiran menderma padaku, mendorongku untuk sebatas teman. Karena takut kehilanganmu. Takut tak mampu membuatmu bahagia. Takut tak sanggup menjadi lelaki seperti yang kau inginkan. Takut keberadaanku hanya akan membuatmu malu. Lalu kenapa aku jatuh cinta denganmu?

Di sini di depan basis waktu tak terperi. Aku duduk dan mulai merangkai kata. Memilah mana yang tepat untuk mengutarakan secuil kepedihan yang membuatku melihatmu pun tak sanggup.

Aku mulai merangkai kata, untukmu seorang. "Sahabatku_Sahabat yang kau bilang sahabat lewat SMS", adakah kau membacanya.

Sesuatu terindah itu milikmu.
Hadir di matamu dan terpias sosok wajahku.
Akakah dalam hatimu pun sama?
Kau hembuskan nafas surgawi dan bersimpuh di bahuku.
Kubaui setiap lekat sepoi yang membuyar di sekelilingku.
Semua itu tentu milikmu.
Yang ternyata selalu mengisi relung kesendirianku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar